Restrukturisasi Ekonomi agar Tidak Ada Lagi “Man Made Poverty”

Standar

sumber: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, bab 22

 

Terminologi Lingkaran Kemiskinan Struktural

Kemiskinan ini man made, karena struktur ekonomi, politik, dan sosial kita yang memproduksi sekelompok kecil orang kaya dan sebagian besar orang miskin. Struktur seperti ini menampilkan sebuah situasi di kenyataan, yang kaya bertambah kaya, yang miskin pun bertambah miskin.

Sebuah tesis menyatakan seolah-olah saat kita merampungkan masalah ekonomi maka akan ada rembesan ke kalangan bawah. Apabila tingkat pendapatan per kapita di atas 1.000 dollar As akan ada koreksi otomatis terhadap ketimpangan yang ada. Tesis ini tidak terbukti karena kekuatan yang sudah menguasai aset kemudian bersekutu dengan penguasa politik, karena dia bisa membiayai biaya politik dan penguasa. Penguasa bisa memberikan proteksi, izin, dan berbagai kemudahan kepada yang mempunyai uang.

Kemudian terdapat sebuah aliansi kelas atas yang seolah melawan kelas bawah yang sayangnya hanya diposisikan sebatas objek sedekah saja. Betul. ini merupakan sebentuk air segar pelepas dahaga di tengah panasnya gurun sahara. Meski begitu, hal itu tidak mengubah struktur yang ada, hanya memelihara kepincangan saja. semakin lama orang akan semakin bergantung dan kemandirian lambat lain akan luntur. ini kerangka makronya.

 

Solusi

Bagaimana kemudian solusinya? Kata kunci permasalahan diatas adalah “Penguasaan Aset”. Kita kembalikan dulu apa yang dimaksud aset disini.

Pengertian aset bukan hanya uang atau tanah, melainkan juga aset ekonomi menyangkut akses informasi pasar, akses pembiayaan, akses teknologi, dan akses pengambilan keputusan. Semua ini adalah pengertian aset yang dimaksud, dan ini harus sesuai dengan amanat konstitusi.

Idenya adalah membuat orang diberi kesempatan yang sama. Jangan hanya orang kaya dan pintar saja yang diberi akses. jangan sampai yang miskin tambah miskin karena anaknya tidak berpendidikan. Karena dia miskin hingga tidak ada mobilisasi vertikal dari keluarga miskin, padahal mungkin saja anaknya berbakat.

Sebuah kondisi anak miskin yang kurang gizi, tumbuh dengan serba kekurangan dari segi syarat sehat. Besar kemungkinan tidak mau bersaing dengan yang terlanjur punya (kaya). Ini lingkaran kemiskinan berlebihan. Orang kaya gizinya baik, sekolah pintar dan lebih tinggi,makin produktif, ditambah akses terhadap aset sangat luas, akhirnya mereka akan kembali kaya.

Sebaliknya, orang miskin kekurangan gizi. Badan lemah diperparah dengan otak yang juga lemah. Kekurangan biaya sekolah, produktivitas tetpa rendah, ditambah lagi sangat minimnya akses terhadap aset mereka. Hasil akhir, mereka akan tetap miskin.

ini menimbulkan situasi kemasyarakatan yang tidak sehat. tidak akan sleesai dengan lantas menjadikan orang miskin sebagai objek sedekah dan kedermawanan. ini kejahatan kemanusiaan, karena orang miskin tidak punya apapun selain kehormatan diri mereka.

Koreksi Kebijakan Publik

Harus ada pemikiran ulang mengenai distribusi aset ini. Kunci utama adalah pendidikan. Basisnya kemanusiaan untuk mengangkat mereka dengan segala kekurangan sebagai bagian tugas kebangsaan.

Utang kita kepada rakyat adalah memberantas kemiskinan, karena fenomena zaman kolonial. Jadi, kalau sudah merdeka masih ada kemiskinan, sadar atau tudak, kita masih meneruskan pola struktur ekonomi kolonial karena negara kita sangat kaya luar biasa.

Tidak mungkin ada negara miskin dengan kekayaan mampu menghasilkan panen dua hingga tiga kali dalam setahun. sebuah negeri sepanjang tahun disinari matahari. Terdapat begitu banyak tambang seolah tinggal ambil. Lautan luas yang memiliki begitu banyak ikan, panjang garis pantai lebih daro 40.000 kilometer yang bisa dioptimalkan melalui budidaya aqua culture misalnya.

Kondisi negeri yang sedemikian kaya, mengapa lantas kemiskinan masih ada? Sulit masuk diakal. Jadi, kemiskinan ini semua adalah man made poverty. Beberapa teman berkelakar bahwa berbagai sumbangan untuk orang miskin merupakan “proyek deodoran”, pewangi ketiak saja, tapi tidak menuntaskan masalah struktural. Kesimpulannya, ahrus ada koreksi terhadap kebijakan, terutama yang menyangkut alokasi sumber daya ekonomi, aset-aset itu tadi.

Berbasis Kerakyatan

Selanjutnya, kita harus punya lapisan pengusaha menengah berjumlah banyak yang berfungsi sebagai lokomotif, karena orang miskin tidak mungkinbisa digerakkan tanpa pengembangtan sktor usaha, dan ini harus yang berbasis dan prioritasnya kerakyatan. Jangan sampai menciptakan pengusaha nasional yang memiliki karakter pengisapan ekonomi seperti yang dilakukan bangsa asing yang dulu datang menjajah kita.

Sebuah teori mengatakan, apabila terdapat 2,5 persen dari sebuah bangsa memiliki semangat wirausaha, maka bangsa tersebut bisa maju. Saar ini kita bari memiliki 0.2 persen wirausaha. perlu lebih banyak lagi dicetak sebagai lokomotif penggerak, sekaligus role model yang mampu menjadi pandu saudara lainnya.

Kita butuh banyak wirausaha yang nasionalis, nasionalis kerakyatan, karena ini tugas kemanusiaan. Karena kekayaan tidak dibawa mati. Inilah watak kebangsaan paling sejati. Inilah watak kebangsaan paling sejati. Kita berbuat, tidak sekadar beretorika. Masalahnya ada di tingkat mikro, bukan di tingkat makro. Bukan berarti makri sudah beres. Masih banyak pekerjaan rumah terkait berbagai kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal.

Sebuah kondisi lucu, saat panen jagung malah impor jagung. Saat panen bawang di Brebes malah didatangkan bawang impor dari Filipina ke Brebes dan menyebabkan harga jatuh, petani merugi. Panen yang seharusnya merupakan masa menggembirakan malah berbalik menjadi momok menakutkan bagi petani. Kita tidak perlu memperbanyak pengusaha oportunis seperti itu. Kasihan petani kita. Mereka juga berhak meraih keuntungan setimpal atas keringat yang telah kering diperas selama proses tanam dan pemeliharaan.

Watak ekonomi kita kerakyatan. Nasionalisme kita adalah Nasionalisme Kerakyatan, bukan sekedar melindungi pengusaha nasional melawan pengusaha asing, karena pengusaha nasional tidak efisien, misalnya. Pengusahanya nasional, tapi kelakuan untuk mengisap pegawainya sama saja dengan orang asing, bahkan mungkin lebih buruk. karena orang asing mempunyai etika dari negaranya. ini namanya nasionalisme borjuis.

Demokrasi kita juga harus demokrasi kerakyatan, bukan sekadar semokrasi prosedural untuk pengumpulan suara dengan sogokan kemudian memilih alasan ekonomi ketimbang kesadaran individual yang sadar dan aktif. jika ini terjadi, maka kehormatan hanya sekadar bilangan rupiah saja.

ini bisa dilakukan jika koreksi terhdap kepincangan pendidikan dan kepincangan pembagian aset ekonomi. Kepincangan pendapatan adalah produk dari kepincangan penguasaaan aset ekonomi. Apabila sumbernya tidak dikoreksi, output-nya pasti akan tetap pincang, karena itu perlu adanya redistribusi aset produktif.

selain itu, negara tidak boleh membiarkan orang kecil melawan orang besar dalam pasar bebas. Inti dari pasar bebas adalah kesetaraan, Kalau pelaku tudaj setara, itu berarti ekonomi pasar tidak sempurna. Tidak ada competitive equilibrium.

Kalau orang menjadi besar, dia harus berbagi, menciptakan lapangan lerja untuk orang lain. Lapangan kerja kemudian menciptakan pendapatan, dan pendapatan menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa yang akhirnya menguntungkan secara ekonomi.

Saat orang kaya hanya mementingkan diri sendiri, dipastikan akan selalu ada lautan orang miskin dengan daya beli rendah, akhirnya meningmbulkan ketegangan sosial, dan permusuhan sebagai akhran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s