Tipisnya Nasionalisme atau Tidak ada Nasionalisme?

Standar

Hasil dari obrolan-obrolan biasa bersama seorang teman, tercetuskan sebuah kata yang menyatakan bahwa “Indonesia kan memang sudah tidak ada rasa nasionalismenya?”. Benarkah demikian? Untuk siapakah sepatutnya pernyataan ini diajukan?

Sebagai generasi pemuda bangsa Indonesia, mendengar pernyataan ini sungguh merasa malu. Nasionalisme yang dipandang sudah tidak ada lagi ini tentu memiliki faktor penyebab, mengapa hal ini terjadi, meskipun jika kita tidak akan sanggup dan tidak cukup waktu untuk menguraikan penyebabnya satu-persatu. Sebab nasionalisme adalah hal yang sangat kompleks dan rumit untuk dibicarakan.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Hingga tahun 2011 saja jumlah penduduknya sudah mencapai angka dua ratus jutaan. Adanya jumlah penduduk yang banyak ini di ikuti dengan perkembangan piramida dimana jumlah penduduk muda lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk tua. Maka, dapat diketahui bahwa jumlah pemuda di indonesia lebih mendominasi. Namun, kenyataannya jumlah pemuda yang banyak ini tidak mampu berbuat banyak untuk bangsa dan negaranya. Faktor-faktor penyebabnya diantaranya yaitu penduduk tua yang masih mendominasi dan menguasai indonesia bahkan disebagian besar pemerintahan, tidak hanya di pusat saja, di tingkat regionalpun demikian.

Keadaan ini hampir sama dengan sebelum kemerdekaan dimana golongan tua lebih mendominasi dan memaksakan pendapatnya untuk dituruti. Sedangkan, kemerdekaan indonesia sendiri tidak pernah terlepas dari peran para pemudanya. Jika kondisinya demikian, patutkah dikatakan bahwa rasa nasionalisme di indonesia berkurang bahkan mungkin sudah lenyap?

Selain itu, pemuda indonesia kini semakin dijejali dengan jenis pergaulan yang sangat berbeda jauh bahkan bertentangan dengan budaya indonesia. Jati diri kebudayaan indonesia yang sesungguhnya sudah semakin kabur, tidak lagi jelas batasnya, yang manakah sesungguhnya budaya indonesia itu? Para pemuda dijejali dengan kesenangan yang makin menjauhkan dengan jati diri bangsanya. Kemewahan dalam kehidupan semakin menjadi trend. Bangga dengan produk luar negeri dan melupakan bahkan memandang rendah sebagian besar produk dalam negeri. semakin mahal barang tersebut dan merupakan barang import maka dianggap kehidupannya akan semakin bergengsi. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, maka akan semakin mendarah daging dikalangan para pemuda, bahkan sudah merambah hingga kalangan remaja dan anak-anak, bahkan orang-orang tua pun ikut-ikutan. Fenomena ini akan berdampak fatal dikemudian hari, bahkan sekarang pun kita sudah merasakannya. Golongan pemuda yang semakin tidak mengenal bangsanya, golongan tua yang terus mendominasi dan  bahkan membiarkannya.

Kini, berbicara saja tidak cukup untuk didengarkan, apalagi diperhatikan. Maka yang patut kita lakukan sebagai generasi yang sudah memahami akan kondisi yang tengah terjadi, mulai menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme pada diri sendiri. Mari kita mulai dari diri sendiri, kita hidup membutuhkan orang lain, tetapi tidak bisa mengandalkan orang lain. Mau jadi apa bangsa kita kelak, tergantung tindak tanduk kita di masa kini. Maka, memperbaiki akhlak dan aqidah kita merupakan modal yang utama untuk sebuah perbaikan bangsa. Semoga saja demikian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s